Sejarah Desa

Pada suatu hari, hiduplah seorang warga desa yang memiliki banyak Kerbau. Tetapi Kerbau tersebut bukan miliknya sendiri melainkan milik masyarakat Desa atau salah satu tabungan dari masyarakat Desa. Maka kerbau-kerbau itu disebut sebagai “kebo maeso darmo dosoe” atau biasa disebut “emas”nya masyarakat desa. Meskipun itu emasnya masyarakat desa Namun itu emasnya orang desa, “pamong prajo” juga memiliki peraturan yang tidak hanya satu saja. Pada musim ketiga, kerbau boleh kumpul dengan yang punya. Tapi jika musim penghujan, kerbau-kerbau tersebut di lepas di tanah milik pemerintah desa atau di suruh keluar dari kampung/desa karena biar tidak merusak tanah atau biar tidak membuat tanah menjadi becek. Dan biar tidak menyebabkan penyakit DB, karena ketika musim penghujan nyamuk-nyamuk menjadi banyak dan berkeliaran.

Pada suatu hari turun hujan. Sekitar pukul 12 malam, warga desa tersebut merasa lapar dan kemudian ia pulang ke rumah. Tiba-tiba di perjalanan tepatnya di depan makam, warga desa tersebut melihat burung di dalam sangkar-sangkar dan juga tiang kayu gantungan burung itu memancarkan sinar emas serta burung tersebut terlihat seperti burung merak.

Sesampainya warga desa tersebut di rumah, kemudian ia menceritakan apa yang dilihatnya kepada bapak dan ibunya. Kemudian sang bapak berkata bahwa nanti kalau zaman sudah maju maka akan dinamakan “kampung merak kayu mas” atau desa Merak

Orang desa tadi bukan sembarangan orang. Tahun demi tahun orang desa tadi tambah kaya dan tanahnya jadi luas, dan bisa jadi “pangembate projo” atau lurah merak.